IABCINDONESIA.COM, JAKARTA – Semua orang membicarakan apa yang bisa dilakukan oleh AI, namun sedikit yang membahas apa yang terjadi ketika AI mulai “berpikir” untuk Anda. Bayangkan Anda adalah seorang Communication Lead di perusahaan Indonesia yang sedang mempersiapkan peluncuran produk ke pasar tier-2 seperti Surabaya atau Medan dalam waktu kurang dari satu bulan. Anda membuka AI dan memasukkan detail produk, segmentasi audiens, serta channel distribusi. Dalam hitungan detik, AI menghasilkan framework strategi komunikasi yang terstruktur dan komprehensif.
Saat Anda hampir mengambil framework yang terlihat “sempurna” yang di-generate oleh AI itu, Anda sadar bahwa ada faktor-faktor yang tidak dilewati atau dipahami oleh AI. AI tidak mengetahui bahwa distributor utama di Surabaya sedang dalam transisi kepemilikan yang membutuhkan pendekatan relasi yang lebih strategis, atau bahwa kompetitor di Medan sedang menjalankan kampanye harga agresif yang dapat mempengaruhi persepsi pasar. “Pesan” yang Anda butuhkan bukan pesan yang paling bagus dan dikemas dengan rapi. Namun, pesan yang Anda butuhkan adalah pesan yang paling tepat dari konteks yang hanya Anda dan tim perusahaan ketahui informasinya.
Itulah yang tidak dapat AI lakukan. AI dapat membaca data pasar, struktur demografis, dan data umum yang dapat diakses di internet, tetapi, AI tidak dapat membaca dan memahami dinamika manusia yang terjadi, karena hal itu berada di luar jangkauannya. Dalam komunikasi bisnis, keputusan strategis tidak hanya berbasis data, namun juga ada pada kemampuan membaca situasi, relasi, dan dinamika organisasi, sesuatu yang tetap menjadi domain manusia.
Pertanyaan yang Tepat, Bukan Jawaban yang Benar
AI akan memberikan jawaban yang menurutnya benar. Tugas Anda adalah memberikan pertanyaan yang tepat. Menurut Stanford AI Index Report 2025, 78% organisasi global sudah menggunakan AI di setidaknya satu fungsi bisnis yang mana hal tersebut naik drastis dari 55% organisasi di tahun sebelumnya. Penggunaan generative AI bahkan lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun, dari 33% menjadi 71%. Di era AI menjadi partner bisnis kita saat ini, sudah banyak sekali perusahaan yang menggunakan AI untuk menjadi garis dasar strategi dan keputusan bisnis mereka. McKinsey State of AI 2025 mencatat bahwa 88% organisasi kini menggunakan AI di setidaknya satu departemen. Namun hanya 7% yang menyatakan AI sudah di-scale sepenuhnya di seluruh organisasi mereka. Yang membedakan mereka yang berhasil dan yang tidak, bukan dari tools yang lebih canggih, melainkan kemampuan mengajukan pertanyaan yang lebih tajam. Anda tidak bertanya “Buatkan messaging framework untuk kampanye ini”, melainkan Anda ingin bertanya “Apa yang salah dengan messaging framework apabila saya ingin masuk ke pasar A?” Itu merupakan keunggulan dari komunikator strategis dalam bisnis. AI merupakan mesin jawaban. Anda merupakan mesin pertanyaan. Gunakan AI untuk mempertanyakan kemampuan dan keefektifan analisa Anda, bukan menggantikan kerangka berpikir Anda.
Batas yang Menjadi Strategi
Dalam menggunakan AI, sering kali diberikan 5 versi pesan, padahal Anda hanya membutuhkan 1 yang paling cocok. AI cenderung memiliki sifat over-producing. Anda akan disarankan 10 channel ketika konteks anggaran dan implementasi Anda hanya dapat melakukan 3. Komunikator bisnis yang strategis akan mengetahui bahwa distribusi dan strategi yang sedikit akan jauh lebih powerful selama dalam konteks dan momentum yang pas ketimbang strategi yang banyak dan boros tetapi tidak memiliki konteks dan momentum yang sesuai.
Opini publik dalam Stanford AI Index 2025 mencatat bahwa secara global, 55% publik kini memandang AI lebih bermanfaat daripada merugikan, yang mana naik dari 52% pada tahun 2022. Namun, dari sisi bisnis, McKinsey mencatat hanya sepertiga organisasi yang benar-benar men-scale AI secara konsisten. Saat ini optimisme publik jauh melampaui kesiapan organisasi. Hal ini yang membuat peran komunikator strategis berada di situasi paling krusial karena mereka menjembatani jarak antara ekspektasi publik dan realita implementasi di dalam organisasi.
Apakah Anda mengetahui, bahwa dengan proposal kemitraan yang sama, cara komunikasi dengan founder lokal versus investor asing akan menghasilkan respons yang sangat berbeda. Anda tahu bahwa cara membangun kepercayaan dengan mitra bisnis di Jawa berbeda dengan di Medan. AI tidak punya pengetahuan dinamika akan peta itu tetapi Anda punya.
Ruang Keputusan Ada di Manusia
Di momen bisnis yang paling kritis, seperti negosiasi kemitraan, peluncuran pasar baru, restrukturisasi internal, hal yang dibutuhkan bukanlah output terbaik. Melainkan, kepercayaan yang dibangun dari track record, kemampuan membaca dinamika manusia, dan keberanian mengambil posisi yang tidak selalu populer secara algoritmik. AI tidak bisa menanggung konsekuensi. Nah, manusia bisa.
Menurut Center for Strategic Communication Excellence (CSCE), AI seharusnya memperkuat, bukan menggantikan penilaian manusia dalam praktik komunikasi profesional. Di tengah kemampuan AI menghasilkan banyak opsi, komunikator justru dituntut untuk memiliki kedisiplinan dalam menyeleksi. Dari menentukan apa yang perlu disampaikan, kepada siapa, dan kapan. Pada akhirnya, keunggulan seorang komunikator tidak terletak pada seberapa banyak output yang dihasilkan, tetapi pada kemampuannya membaca konteks, mengelola persepsi, dan mengambil keputusan yang tidak selalu dapat dihasilkan oleh mesin.
AI adalah partner bisnis terbaik yang pernah ada. Ia mahir dalam kecepatan eksekusi, daya yang tidak terbatas, dan tidak pernah ada masalah. Tapi pada akhirnya, yang duduk di meja negosiasi bisnis adalah Anda. Yang membangun kepercayaan dengan mitra adalah Anda. Yang memutuskan apa yang tepat dan bukan hanya apa yang efisien adalah Anda.
Secara global, termasuk di Indonesia, bisnis-bisnis dibangun di atas relasi, kepercayaan, dan pemahaman konteks, di mana nilai tertinggi seorang komunikator bukan pada seberapa cepat ia menghasilkan konten. Nilai tertingginya ada pada seberapa tajam ia membaca ruangan yang tidak bisa dibaca mesin manapun.
Source:

