IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI: Komunikasi Strategis Berbasis Kemanusiaan

Desember 8, 2025

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI: Komunikasi Strategis Berbasis Kemanusiaan

Konferensi Komunikasi Berpengaruh di Penghujung Tahun Ini, IABC Indonesia Conference and Awards 2025 Hadir dengan Fokus pada Kepercayaan, Kemanusiaan, dan Dampak Digital

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 1: Keynote speakers bersama Boards of Directors IABC Indonesia. Dari kiri ke kanan: Elvera N. Makki, President IABC Indonesia, Founder & CEO VMCS Communications & Social Impact, Prof. Stella Christie Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, Shanti Ruwyastuti Board Member IABC Indonesia, Dwi Fatan Lilyana Direktur SDM dan Umum PT. Pelabuhan Indonesia (Persero).

Jakarta, 8 Desember 2025 – Di tengah percepatan teknologi dan pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah dinamika komunikasi global, International Association of Business Communciators (IABC) Indonesia, menyoroti masa depan kepercayaan publik di era AI yang semakin rentan dengan deepfakes. Pada acara IABC Indonesia Conference and Awards yang diadakan setiap tahun sejak 2022, kali ini fokus diskusi menitikberatkan pada komunikasi strategis berbasis kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital, dengan menghadirkan narasumber terkemuka dari sektor pemerintahan, swasta, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas.

Elvera N. Makki, President IABC Indonesia dan Founder & CEO VMCS Communications and Social Impactmenegaskan bahwa kepercayaan publik kini merupakan mata uang utama kepemimpinan modern, “Dalam ekosistem digital, teknologi dapat mempercepat pesan, tetapi hanya kemanusiaan yang dapat memperdalam makna. Di era AI, komunikasi strategis tidak cukup hanya akurat, namun harus empatik, etis, dan berpihak pada hak asasi manusia.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 2: Catatan dari Elvera N. Makki (President IABC Indonesia, Founder & CEO VMCS Communications & Social Impact) yang secara resmi membuka Conference 2025 dengan pesan kuat bahwa komunikasi yang berakar pada kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital adalah fondasi kepemimpinan yang mampu benar-benar menginspirasi tindakan.

Survei terbaru dari Boston University Communication Research Center pada 2025 menemukan bahwa empat dari lima orang mendukung adanya perlindungan ketat terhadap deepfakes berbasis AI di media sosial, dan mayoritas publik menginginkan platform media sosial bertanggungjawab lebih aktif dalam memoderasi minsinformasi tanpa harus bergantung penuh pada sensor pemerintah. Temuan ini menegaskan bahwa isu kepercayaan publik di era AI bukan sekedar wacana, melainkan agenda strategis global.

Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset (Dikti Saintek) RI saat hadir di IABC Indonesia Conference menyampaikan keynote speech di depan ratusan business communicators tentang pentingnya membangun pemikir digital yang berpusat pada manusia. Ia menekankan bahwa penyebaran hoaks yang masif terjadi di ranah digital harus terus dilawan melalui edukasi, riset, dan bukti empiris, agar berbagai tantangan akurasi informasi dan komunikasi di Indonesia dapat ditumpas secara signifikan, “Hoaks merupakan ancaman yang sangat besar dan salah satu yang paling serius di Indonesia. Ajang IABC Indonesia Conference ini merupakan saat yang tepat untuk kita bicarakan bersama.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 3: Pemaparan dari keynote speech 2 oleh Prof. Stella Christie (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia). Dalam pidatonya, Prof. Stella menekankan pentingnya membentuk pemikir digital yang berpusat pada manusia. Ia menyampaikan bahwa informasi di ruang digital sangat mempengaruhi cara masyarakat memproses pesan, terutama terkait hoaks. Tantangan ini perlu terus diedukasi dan diatasi bersama, dengan mendorong penggunaan riset dan bukti empiris untuk menjawab berbagai persoalan di Indonesia maupun dunia.

Pertama, tegasnya, mengapa orang-orang menyebarkan hoaks, termasuk kita mungkin salah satunya yang pernah melakukannya. Kedua,  dari jawaban pertama, lalu tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hal ini, karena ini adalah masalah besar.

“Lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman paling serius saat ini. AI mempermudah pembuatan berita hoaks, dan dalam satu tahun terakhir, penyebaran informasi palsu dengan teknologi AI meningkat hingga 2x lipat dalam satu tahun terakhir,” ungkap Prof. Stella. Terdapat empat alasan mengapa percaya hoaks, yang dijabarkan satu-persatu oleh beliau dalam forum ini, yaitu dilihat dari sisi political partisanship, cognitive reflection, prior knowledge, dan heuristic.

Fast-checking adalah tindakan yang selama ini kita lakukan untuk mengentaskan hoaks. Namun terdapat solusi perilaku yang patut dilakukan, yaitu solusi proaktif “prebunking”, accuracy nudge, solusi sistemik wisdom of crowd, dan solusi jangka panjang, yaitu edukasi,” papar Prof. Stella, “Masalah inti model bisnis berbagai platform media sosial adalah memonetisasi perhatian, dimana algoritma dirancang untuk memaksimalkan engagement, bukan akurasi.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 4: Sambutan keynote speech 3 oleh Bapak Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, pada IABC Indonesia Awards 2025. Beliau menekankan bahwa tantangan terbesar komunikasi saat ini adalah framing di ruang digital, di mana informasi faktual bisa berubah persepsinya dan berdampak negatif pada organisasi atau brand. Karena itu, kita harus waspada dan sigap mengantisipasi dinamika ini, serta tidak mengabaikan media sosial sebagai ruang berkembangnya berbagai narasi.

Melanjutkan sesi Prof. Stella, Dr. Ir. Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang juga hadir menyampaikan keynote speech menekankan tantangan terbesar komunikasi saat ini adalah framing di ruang digital. Informasi bisa saja faktual, namun ketika dibingkai berbeda, persepsinya dapat berubah dan berdampak negatif pada organisasi maupun brand. Framing yang dilakukan secara cepat untuk kepentingan engagement di media sosial tanpa verifikasi, mengorbankan banyak pihak, tak hanya politisi dan pejabat publik, namun juga dunia usaha, bahkan hingga UMKM. Karena itu, ujarnya, kita harus waspada dan sangat berhati-hati dalam merespons dinamika ini, “Realita yang kita hadapi sekarang tentang framing, sangat kontekstual dengan tema konferensi ini, yaitu Strategic Communications at the Heart of Trust, Humanity, and Digital Impact. Nyambung banget. Saat kita ingin meraih kepercayaan namun tidak paham cara menciptakan dampak secara digital, maka upaya tersebut sulit tercapai. Kita harus bisa mengantisipasi derasnya hoaks dan framing, dengan kesigapan, namun juga hati-hati.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 5: Pembicara kunci Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya komunikasi kesehatan yang transparan dan mudah dipahami di tengah era misinformasi untuk membangun kepercayaan publik. Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa instan, masyarakat perlu merasa terhubung secara emosional. Karena itu, komunikasi harus disertai data yang akurat, lahir dari empati dan kisah nyata, bukan sekadar angka.

Berbicara mengenai humanity atau kemanusiaan, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan, RI yang turut hadir sebagai keynote speaker menyatakan pentingnya komunikasi kesehatan dalam membangun kepercayaan publik untuk hidup yang lebih baik, “Kepercayaan adalah aset yang paling berharga di dalam dunia kesehatan sekaligus yang paling rapuh. Untuk itu, pembenahan perlu dilakukan di semua sektor di bidang kesehatan. Kementerian Kesehatan terus memperkuat komunikasi publik yang transparan, mudah dipahami serta menyentuh hati masyarakat karena perubahan sistem pola hidup tidak bisa seperti membalik tangan, sebelum tersentuh hatinya. Karena itu, saya menyambut baik tema yang diselenggarakan IABC untuk mengangkat topik komunikasi di bidang kesehatan.”

Lanjutnya, komunikasi tidak hanya membutuhkan penyajian data yang akurat, namun dibutuhkan empati dan kisah nyata dari berbagai sumber lapisan masyarakat, terutama bagi yang sedang berjuang di pelosok terpencil Indonesia. Kemampuan mengubah statistik menjadi cerita dan empati, itulah hal yang paling esensial untuk diperankan sektor komunikasi publik, terutama komunikasi digital, “Saya menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya terhadap IABC yang telah membangun komunikasi kesehatan, yang tidak hanya akan terbatas di ruang ini, namun dapat menjangkau ruang publik yang lebih luas.” ujar Prof. dr. Dante.  

Sementara itu Bank Mandiri melihat penguatan inovasi digital sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas dan mendorong akselerasi ekonomi nasional. Dengan mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam pengembangan layanan, Bank Mandiri membangun ekosistem finansial yang lebih efisien, inklusif, dan adaptif terhadap dinamika ekonomi, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi rumah tangga, UMKM, dan sektor produktif yang menjadi pendorong pertumbuhan PDB.

Pemanfaatan teknologi untuk literasi, transparansi transaksi, dan mitigasi risiko juga mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global, sehingga inovasi digital dapat memberikan multiplier effect bagi keberlanjutan ekonomi jangka Panjang. “Membangun kepercayaan di era digital dimulai dengan menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari setiap inovasi. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ESG dalam praktik bisnis kami, Bank Mandiri terus berkembang dalam menciptakan dampak digital yang memberdayakan masyarakat, memperkuat komunitas, dan menjaga keberlanjutan masa depan bersama,” ujar Senior Vice President Environmental, Social & Governance Bank Mandiri, Monica Yoanita Octavia.

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 6: Panelis Abdullah Fahmi, VP Corporate Communication & Social Responsibility Telkomsel Indonesia (tengah) memaparkan peran penting perusahaan melalui teknologi AI dan digitalisasi di setiap sektor di Indonesia, mulai dari pemerintahan, enterprise, hingga pendidikan.

Abdullah Fahmi, VP Corporate Communication & Social Responsibility, Telkomsel Indonesia, menekankan“Transformasi digital tidak cukup hanya dengan jaringan yang kuat. Kita memerlukan komunikasi yang bertanggung jawab untuk memastikan setiap langkah menuju keberlanjutan dimengerti, diterima, dan dijaga. Sebagai komunikator, kita membangun kepercayaan yang memungkinkan teknologi memberi dampak positif nyata bagi seluruh bangsa.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 7: Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia menegaskan kembali tujuan utama komunikasi, to shine and shield. Artinya, mempromosikan kisah yang mencerminkan nilai-nilai perusahaan sekaligus menjaga reputasi Danone dengan optimal.

Sementara Danone Indonesia berhasil mendefiniskan ulang dampak komunikasi terhadap keberlanjutan bisnis, “Rahasia formula komunikasi yang berdampak adalah empati, baik saat melindungi maupun promosi. Di Danone Indonesia, kami berbicara dengan bahasa audiens yang kami tuju, memastikan pemahaman yang membentuk persepsi publik yang positif, dan pada akhirnya, komunikasi yang memperkuat keberlanjutan bisnis,” ujar Arif Mujahidin, Corporate Communication, Danone Indonesia.

Dalam menggawangi tren komunikasi untuk tahun 2026, Elvera menutup IABC Indonesia Conference dan Awards dengan membagikan pesan kunci bagi profesional komunikasi di tanah air, “Ketika survei dunia menunjukkan publik mulai meragukan apa yang mereka lihat dan dengar, tugas komunikator adalah memulihkan kepercayaan dengan transparansi, integritas, dan keberanian mengakui keterbatasan. Humanity adalah kompasnya. AI mungkin mempercepat dunia, tetapi hanya humanityyang dapat menstabilkannya. Ke depan, komunikator Indonesia perlu berdiri di garis depan yang menghubungkan data dengan empati, teknologi dengan etika, dan inovasi dengan tanggung jawab sosial. Komunikasi yang berakar pada kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital adalah fondasi kepemimpinan yang diharapkan mampu menginspirasi tindakan.”

Dengan semakin kompleksnya tantangan digital, IABC Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadi rumah bagi para komunikator yang ingin memimpin dengan etika, empati, dan dampak nyata bagi masyarakat.

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 8: Keynote speakers bersama Boards of Directors IABC Indonesia. Dari kiri ke kanan: Elvera N. Makki, President IABC Indonesia, Founder & CEO VMCS Communications & Social Impact, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, Prof. Stella Christie Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Shanti Ruwyastuti, Board Member IABC Indonesia, dan Dwi Fatan Lilyana, Direktur SDM dan Umum PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) juga sebagai Advisor IABC Indonesia.

IABC merupakan asosiasi yang menjadi salah satu barometer untuk tren komunikasi dunia, berkantor pusat di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, dan menaungi lebih dari 100 chapters di 80 negara, termasuk di Indonesia. Keanggotaan IABC Indonesia beroperasi di bawah payung Perkumpulan Komunikasi Internasional Indonesia yang aktif sejak 2019. Dengan lebih dari 1000 anggota komunitas Indonesia, berbagai program yang dilaksanakan memberikan wawasan, pengetahuan, dan akses jejaring profesional, serta program mentorship, pemberian penghargaan, dan sertifikasi profesi di bidang komunikasi berskala internasional. Untuk bergabung dengan komunitas ini, dapat mengunjungi www.iabcindonesia.com dan jejaring profesional di Linkedin, serta Instagram @iabcindonesia.

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi:
Malvin Adrianus
Email: malvin.adrianus@iabcindonesia.com dan info@iabcindonesia.com
No WA: 0851-5633-7189

Pelaksanaan Seminar/Kuliah Wajib dan Workshop IABC Indonesia di Universitas Mulawarman dan Kunjungan ke Nusantara

Oktober 23, 2024

IABC Indonesia telah sukses menyelenggarakan seminar/kuliah umum dan workshop di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur pada tanggal 9 hingga 11 September 2024. Kegiatan bertema “Nusantara Baru, Indonesia Maju” ini bertujuan untuk mendukung pembangunan dan pengembangan komunikasi serta teknologi di bidang pendidikan Indonesia, khususnya di era digital saat ini. Kegiatan ini juga mencakup penandatanganan Nota Kesepahaman yang mencakup Tri Dharma Perguruan Tinggi, Implementing Agreement (IA), dan Perjanjian Kerja Sama antara Universitas Mulawarman dengan IABC Indonesia, VMCS Advisory, dan NoLimit Indonesia guna memperkuat kolaborasi di sektor pendidikan dan penelitian.

Keynote speaker pada seminar/kuliah umum ini adalah Prof. Ir. Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc., Ph.D., Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara,  yang turut menyampaikan pemaparan mengenai perkembangan terbaru pembangunan Ibu Kota Nusantara. Dalam paparannya, Prof. Ali menjelaskan bagaimana Nusantara sebagai ibu kota baru Indonesia dirancang untuk menjadi kota futuristik yang berfokus pada keberlanjutan, teknologi cerdas, dan harmoni lingkungan.

Foto Bersama Peserta Seminar Kuliah Umum

Setelahnya, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Elvera N. Makki, MBA, ABC, SCMP, Ketua IABC Indonesia/PERKOMII sekaligus CEO VMCS Advisory, Dr. Aqsath R. Naradhipa, CEO NoLimit Indonesia, dan Dr. Catur Suratnoaji, M.Si., Dekan Fisip UPN Jawa Timur. Pemaparan tersebut menguraikan pentingnya membangun campus branding dan reputasi di era digital, serta bagaimana Big Data dan kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan dalam lingkungan perguruan tinggi. Para pembicara menekankan bahwa kampus harus memanfaatkan teknologi digital secara efektif untuk membangun reputasi dan branding yang kuat, menjangkau lebih banyak audiens, serta meningkatkan mutu penelitian akademik.

Foto Pemaparan Materi oleh VMCS Advisory

Rangkaian acara dilanjutkan dengan workshop yang dibagi ke dalam tiga sesi. Pada sesi pertama, VMCS Advisory memaparkan materi terkait “Building University Branding and Reputation in the Digital Era” yang membahas strategi untuk memperkuat citra perguruan tinggi melalui platform digital. Sesi kedua diisi oleh NoLimit Indonesia, yang membahas “Penggunaan Big Data dan AI dalam Riset dan Jurnal Akademik”, menyoroti pentingnya pemanfaatan data dalam mendukung analisis dan pengembangan akademis. Pada sesi terakhir, UPN Veteran Jawa Timur menyampaikan topik “Implementasi Penggunaan Big Data dan AI dalam Lingkup Perguruan Tinggi,” memberikan wawasan tentang bagaimana kampus dapat mengadopsi teknologi canggih untuk mendukung efisiensi operasional dan peningkatan kualitas pendidikan.

Foto Bersama Peserta Tur IKN

Setelah rangkaian acara selesai, pada Kamis, 12 September 2024, IABC Indonesia bersama tim dari VMCS Advisory dan NoLimit Indonesia serta perwakilan dari Universitas Mulawarman mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi Ibu Kota Nusantara (IKN) setelah sebelumnya memperoleh izin dari pihak Otorita Ibu Kota Nusantara. Perjalanan dari Samarinda menuju Nusantara memakan waktu sekitar 3 jam. Selama tur di Nusantara, rombongan dipandu oleh Ibu Syavika Putri Zayyana, Analis Kebijakan Ahli Pertama, Direktorat Investasi dan Kemudahan Berusaha dan Bapak Igor Immanuel, Analis Keuangan Negara Ahli Madya, Direktorat Pendanaan dengan menggunakan bus listrik, yang mana hal ini sejalan dengan komitmen Nusantara terhadap penggunaan energi terbarukan. Para peserta tur dapat melihat langsung bagaimana konsep Smart Forest City yang berbasis keberlanjutan sedang diterapkan di ibu kota baru ini, dengan sistem transportasi ramah lingkungan dan integrasi teknologi canggih di seluruh aspek tata kota.

Penandatanganan Note Kesepahaman IABC Indonesia dengan LSP PRI untuk Sertifikasi Profesi Public Relations Bertaraf Internasional

Agustus 28, 2024

Sebagai langkah awal dalam mewujudkan Perjanjian Kerja Sama IABC – LSP PRI, dengan gembira kami laporkan bahwa Lembaga Sertifikasi Profesi PR Indonesia (“LSP PRI”) telah berhasil mengembangkan Skema Sertifikasi Profesi PR yang baru. Sebagai pionir dan LSP pertama di bidang Kehumasan, LSPPRI melaksanakan sertifikasi, pemutakhiran sistem dan prosedur penjaminan mutu sertifikasi, mengembangkan skema sertifikasi, serta melakukan penelitian dan komunikasi dengan pemangku kepentingan dalam mengembangkan skema yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

MoU IABC Indonesia LSPPRI
Foto bersama Muslim Basya selaku Chair Lembaga Sertifikasi profesi PR Indonesia dan Elvera Makki selaku President of IABC Indonesia - Founder & CEO VMCS Advisory Indonesia.

Tim verifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (“BNSP”) telah melakukan verifikasi dan validasi skema sertifikasi. Telah menjalani Full Assessment BNSP dan Saksi BNSP serta mendapat persetujuan BNSP melalui Keputusan Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi Nomor Kep—2258/BNSP/X/2023 tentang Perubahan Ruang Lingkup LSP PRI.

MoU IABC Indonesia LSPPRI

Dari 17 skema sertifikasi, lima diantaranya merupakan skema sertifikasi PR digital yang dikembangkan berdasarkan perkembangan terkini dalam pekerjaan PR digital. Sebagai pelaksana sertifikasi atas nama BNSP, SKKNI selalu memandu pengembangan Skema Sertifikasi. Namun LSP RI telah diberikan kewenangan untuk mengembangkan Skema Sertifikasi, termasuk pengembangan Materi Uji Kompetensi. Karena SKKNI hanya kadang-kadang dapat mencakup seluruh kebutuhan pekerjaan terkini dan pemutakhiran Skema Sertifikasi memerlukan waktu, maka LSP PRI selalu pemutakhiran Materi Uji Kompetensi setiap tahunnya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan dan perubahan atau perkembangan dunia Humas yang serba cepat. Dari 17 skema sertifikasi, 5 diantaranya merupakan skema sertifikasi PR digital yang dikembangkan berdasarkan perkembangan terkini dalam pekerjaan PR digital. Sebagai pelaksana sertifikasi atas nama BNSP, SKKNI selalu memandu pengembangan Skema Sertifikasi. Namun LSP RI telah diberikan kewenangan untuk mengembangkan Skema Sertifikasi, termasuk pengembangan Materi Uji Kompetensi. Karena SKKNI hanya kadang-kadang dapat mencakup seluruh kebutuhan pekerjaan terkini dan pemutakhiran Skema Sertifikasi memerlukan waktu, maka LSP PRI selalu pemutakhiran Materi Uji Kompetensi setiap tahunnya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan dan perubahan atau perkembangan dunia Humas yang serba cepat.

IABC Webinar Sustainability & ESG Series: Menilik Perkembangan Komitmen Keberlanjutan di Indonesia untuk Target Net Zero Emission (NZE)

Agustus 10, 2024

IABC Webinar Sustainability & ESG Series:

Menilik Perkembangan Komitmen Keberlanjutan di Indonesia untuk Target Net Zero Emission (NZE)

Jakarta, 16 Juli 2024 – Komitmen keberlanjutan Net Zero Emission (NZE) yang pertama kali muncul saat Conference of the Parties (COP 21) pada tahun 2015, menelurkan Paris Agreement yang disepakati 197 negara, termasuk Indonesia, untuk menjaga kenaikan temperatur rata-rata global hingga 2 C dibandingkan pada masa pra-industri dan sedapat mungkin menjaga kenaikan temperatur tersebut tidak melebihi 1,5 C. Dalam menjaga perubahan iklim ekstrim tersebut, kesepakatan NZE dunia adalah mencapai target NZE pada tahun 2050, sementara Indonesia memiliki target untuk mencapai NZE pada 2060. 

International Association of Business Communicators (IABC) – Indonesia Chapter, sebagai bagian dari IABC yang berpusat di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, turut memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan upaya-upaya keberlanjutan di tanah air, termasuk dalam pilar Environment, Social, and Governance (ESG), utamanya bagaimana komunikasi, public relations, dan public affairs dapat berperan aktif menyuarakan aksi-aksi keberlanjutan. 

Elvera N. Makki, MBA, ABC, SCMP, Presiden International Association of Business Communicators (IABC) – Indonesia Chapter, menyatakan, “IABC Indonesia memiliki perhatian terhadap keberlanjutan, termasuk ESG di Indonesia, karena dampaknya yang sangat besar terhadap kehidupan manusia saat ini dan di masa depan. Peran komunikasi sangat penting untuk menyuarakan aksi-aksi keberlanjutan dan meningkatkan kesadaran masyarakat, juga korporasi lintas sektor untuk bersama-sama berperan aktif dalam mencapai target Net Zero Emission di Indonesia pada tahun 2060 mendatang. Untuk itu, kami menyelenggarakan forum ini sebagai diskusi rutin dengan para pemimpin dan profesional keberlanjutan, agar sebagai praktisi komunikasi, kami memahami dan dapat turut menyebarkan informasi-informasi penting terkait topik krusial ini.”

IABC (International Association of Business Communicators) – Indonesia Chapter mengadakan webinar “IABC Power Brain Communication Webinar 2024: Sustainability and ESG Series” dengan mengangkat tema “Net Zero Emission’s Targets and Updates”, menghadirkan narasumber terkemuka dari berbagai sektor industri yaitu Warsono, Executive Vice President Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan, PT PLN (Persero), Nurdiana Darus, Head of Sustainability & Corporate Affairs, PT Unilever Indonesia, Tbk. dan Febron Siregar, Sales Director Indonesia, Wärtsilä Energy. Webinar ini juga dimoderatori oleh Elvera N. Makki, Communications & Social Impact Advisor VMCS Public Relations, dan juga President of IABC Indonesia.

Dalam diskusi yang diselenggarakan secara daring, Warsono, Executive Vice President Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan, PT PLN (Persero), memaparkan strategi transisi energi dari sektor ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan berkeadilan, “Setiap negara memiliki strategi berbeda dalam transisi energi, tergantung dari kondisi masing-masing negara. Di Indonesia, kami memiliki empat pilar teknologi untuk percepatan pengembangan energi terbarukan dengan skenario pengurangan bertahap penggunaan batubara.”

Pilar pertama terkait target penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 75% dan energi berbasis gas 25% pada tahun 2040. PLN juga mengupayakan super grid, sebagai pilar kedua, dimana jaringan transmisi dijadikan sebagai enabler yang mengatasi ketidakcocokan antara potensi energi baru dan terbarukan dengan pusat permintaan. Pilar ketiga menitikberatkan pada penggunaan secara masif penetrasi tenaga surya dan angin pada sistem kelistrikan melalui pembangkit yang fleksibel dan smart grid. Terakhir, pilar green emerging technology, yang memaksimalkan penggunaan penyimpanan, CCS/CCUS, Co-firing Hydroge, Ammonia, dan energi baru seperti nuklir. 

Nurdiana Darus, Head of Sustainability & Corporate Affairs, PT Unilever Indonesia menyatakan, “Unilever berkomitmen mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2039, dengan aksi  nyata dan terukur dalam 9 (sembilan) area di sepanjang rantai bisnis perusahaan di tahapan hingga tahun 2030, termasuk yang berkaitan dengan pemasok, bahan baku, desain kemasan dan penyimpanan, hingga logistik.”

Nurdiana pun memaparkan secara detil target-target keberlanjutan di masing-masing scope 1, 2, dan 3, yang berfokus pada pengurangan emisi dan dekarbonisasi, “Ambisi Unilever menuju Net Zero Emission terangkum dalam Climate Transtition Action Plan (CTAP). Pada periode antara tahun 2025-2023, kami telah mengurangi 89.45% emisi karbon pada operasionalisasi, instalasi panel solar di beberapa pabrik pada Agustus 2023 yang berkapasitas 2,5MWp, dengan pengurangan emisi CO2 hingga 1,500 ton per tahun, setara dengan menanam 20,000 pohon. Instalasi ini merupakan terbesar di kawasan Jababeka.”    

Febron Siregar, Sales Director Wärtsilä Energy menyampaikan, “Wärtsilä memiliki target dekarbonisasi pada tahun 2030. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah energi terbarukan, maka dibutuhkan solusi penyeimbang yang fleksibel untuk memastikan stabilitas dan keandalan dari energi terbarukan tersebut, yang kapasitasnya diharapkan meningkat 8x pada tahun 2050.”

Tambahnya, “Untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2050, maka energi terbarukan harus menyediakan 89% pasokan ketenagalistrikan dunia. Memilih teknologi yang fleksibel dan tepat untuk sistem tenaga sangat penting untuk menjaga pasokan listrik yang stabil dan dapat diandalkan.Wärtsilä sendiri baru-baru ini meluncurkan pembangkit listrik tenaga hidrogen berskala besar pertama di dunia, yang menjawab kebutuhan dekabornisasi di sektor energi.”

Ketiga narasumber sepakat bahwa untuk mencapat target Net Zero Emission, dibutuhkan kerjasama, kolaborasi, dan keselarasan lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan, “Komunikasi memegang peranan kunci agar tujuan keberlanjutan dapat tercapai sesuai waktu yang dicanangkan, sehingga IABC Indonesia turut mendukung melalui diskusi dan dialog yang diadakan secara rutin dalam forum-forum kami, “ tutup Elvera Makki.

IABC Webinar Sustainability & ESG Series

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi:
Email: info@iabcindonesia.com
Website: iabcindonesia.com
Facebook, Instagram, Twitter, Linkedin: @iabcindonesia

IABC Leaders Discussion Bersama Pemimpin dan Praktisi PR Terkemuka

April 13, 2024

IABC Indonesia mengadakan diskusi terbatas yang mengangkat tema “Optimizing Communications and Public Relations for the Advancement of Business Growth in Indonesia” yang dihadiri oleh para pemimpin dan praktisi senior dari berbagai bidang di Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan pada Rabu, 3 April 2024, di VVIP Senayan Avenue, Jakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan iftar bersama.

IABC Leaders Discussion

Dalam diskusi ini, para peserta termasuk anggota Dewan IABC (International Association of Business Communicators) dan perwakilan Distinguished Advisor, serta praktisi PR dan komunikator bisnis. Hadir juga tokoh-tokoh terkemuka seperti Angkie Yudistia, Staf Khusus Presiden; Maria Wongsonagoro, Konsultan Senior PR; Muslim Basya, dari Executive Board LSPPRI (Lembaga Sertifikasi Profesi PR Indonesia); Tuhu Nugraha, Konsultan Digital dan Teknologi; Diyas Herrianti, Director of the Government of Western Australia; Rembianov, dari Communication FIF Group; dan Shanty Ruwiyastuti, Kepala Media Academy. Dari kalangan akademisi, turut hadir Moch. N. Kurniawan dari Swiss German University dan Elke Alexandrina dari LSPR, serta banyak lagi.

IABC Leaders Discussion

Diskusi ini mencakup berbagai topik yang relevan, termasuk pentingnya pemahaman tentang keberlanjutan (sustainability), peran teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam perkembangan dunia PR, perlunya SDM PR yang relevan dengan masa depan, peran komunikasi politik dalam komunikasi strategis, dan juga pembahasan tentang riset dan data untuk meningkatkan kredibilitas.

Acara ini menjadi wadah yang penting bagi para pemimpin dan praktisi di bidang komunikasi dan PR untuk berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman dalam upaya meningkatkan pertumbuhan bisnis di Indonesia.