IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI: Komunikasi Strategis Berbasis Kemanusiaan

December 8, 2025

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI: Komunikasi Strategis Berbasis Kemanusiaan

Konferensi Komunikasi Berpengaruh di Penghujung Tahun Ini, IABC Indonesia Conference and Awards 2025 Hadir dengan Fokus pada Kepercayaan, Kemanusiaan, dan Dampak Digital

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Keynote speakers bersama Boards of Directors IABC Indonesia. Dari kiri ke kanan: Elvera N. Makki, President IABC Indonesia, Founder & CEO VMCS Communications & Social Impact, Prof. Stella Christie Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, Shanti Ruwyastuti Board Member IABC Indonesia, Dwi Fatan Lilyana Direktur SDM dan Umum PT. Pelabuhan Indonesia (Persero).

Jakarta, 8 Desember 2025 – Di tengah percepatan teknologi dan pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah dinamika komunikasi global, International Association of Business Communciators (IABC) Indonesia, menyoroti masa depan kepercayaan publik di era AI yang semakin rentan dengan deepfakes. Pada acara IABC Indonesia Conference and Awards yang diadakan setiap tahun sejak 2022, kali ini fokus diskusi menitikberatkan pada komunikasi strategis berbasis kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital, dengan menghadirkan narasumber terkemuka dari sektor pemerintahan, swasta, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas.

Elvera N. Makki, President IABC Indonesia dan Founder & CEO VMCS Communications and Social Impactmenegaskan bahwa kepercayaan publik kini merupakan mata uang utama kepemimpinan modern, “Dalam ekosistem digital, teknologi dapat mempercepat pesan, tetapi hanya kemanusiaan yang dapat memperdalam makna. Di era AI, komunikasi strategis tidak cukup hanya akurat, namun harus empatik, etis, dan berpihak pada hak asasi manusia.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Catatan dari Elvera N. Makki (President IABC Indonesia, Founder & CEO VMCS Communications & Social Impact) yang secara resmi membuka Conference 2025 dengan pesan kuat bahwa komunikasi yang berakar pada kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital adalah fondasi kepemimpinan yang mampu benar-benar menginspirasi tindakan.

Survei terbaru dari Boston University Communication Research Center pada 2025 menemukan bahwa empat dari lima orang mendukung adanya perlindungan ketat terhadap deepfakes berbasis AI di media sosial, dan mayoritas publik menginginkan platform media sosial bertanggungjawab lebih aktif dalam memoderasi minsinformasi tanpa harus bergantung penuh pada sensor pemerintah. Temuan ini menegaskan bahwa isu kepercayaan publik di era AI bukan sekedar wacana, melainkan agenda strategis global.

Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset (Dikti Saintek) RI saat hadir di IABC Indonesia Conference menyampaikan keynote speech di depan ratusan business communicators tentang pentingnya membangun pemikir digital yang berpusat pada manusia. Ia menekankan bahwa penyebaran hoaks yang masif terjadi di ranah digital harus terus dilawan melalui edukasi, riset, dan bukti empiris, agar berbagai tantangan akurasi informasi dan komunikasi di Indonesia dapat ditumpas secara signifikan, “Hoaks merupakan ancaman yang sangat besar dan salah satu yang paling serius di Indonesia. Ajang IABC Indonesia Conference ini merupakan saat yang tepat untuk kita bicarakan bersama.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Pemaparan dari keynote speech 2 oleh Prof. Stella Christie (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia). Dalam pidatonya, Prof. Stella menekankan pentingnya membentuk pemikir digital yang berpusat pada manusia. Ia menyampaikan bahwa informasi di ruang digital sangat mempengaruhi cara masyarakat memproses pesan, terutama terkait hoaks. Tantangan ini perlu terus diedukasi dan diatasi bersama, dengan mendorong penggunaan riset dan bukti empiris untuk menjawab berbagai persoalan di Indonesia maupun dunia.

Pertama, tegasnya, mengapa orang-orang menyebarkan hoaks, termasuk kita mungkin salah satunya yang pernah melakukannya. Kedua,  dari jawaban pertama, lalu tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hal ini, karena ini adalah masalah besar.

“Lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman paling serius saat ini. AI mempermudah pembuatan berita hoaks, dan dalam satu tahun terakhir, penyebaran informasi palsu dengan teknologi AI meningkat hingga 2x lipat dalam satu tahun terakhir,” ungkap Prof. Stella. Terdapat empat alasan mengapa percaya hoaks, yang dijabarkan satu-persatu oleh beliau dalam forum ini, yaitu dilihat dari sisi political partisanship, cognitive reflection, prior knowledge, dan heuristic.

Fast-checking adalah tindakan yang selama ini kita lakukan untuk mengentaskan hoaks. Namun terdapat solusi perilaku yang patut dilakukan, yaitu solusi proaktif “prebunking”, accuracy nudge, solusi sistemik wisdom of crowd, dan solusi jangka panjang, yaitu edukasi,” papar Prof. Stella, “Masalah inti model bisnis berbagai platform media sosial adalah memonetisasi perhatian, dimana algoritma dirancang untuk memaksimalkan engagement, bukan akurasi.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Sambutan keynote speech 3 oleh Bapak Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, pada IABC Indonesia Awards 2025. Beliau menekankan bahwa tantangan terbesar komunikasi saat ini adalah framing di ruang digital, di mana informasi faktual bisa berubah persepsinya dan berdampak negatif pada organisasi atau brand. Karena itu, kita harus waspada dan sigap mengantisipasi dinamika ini, serta tidak mengabaikan media sosial sebagai ruang berkembangnya berbagai narasi.

Melanjutkan sesi Prof. Stella, Dr. Ir. Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang juga hadir menyampaikan keynote speech menekankan tantangan terbesar komunikasi saat ini adalah framing di ruang digital. Informasi bisa saja faktual, namun ketika dibingkai berbeda, persepsinya dapat berubah dan berdampak negatif pada organisasi maupun brand. Framing yang dilakukan secara cepat untuk kepentingan engagement di media sosial tanpa verifikasi, mengorbankan banyak pihak, tak hanya politisi dan pejabat publik, namun juga dunia usaha, bahkan hingga UMKM. Karena itu, ujarnya, kita harus waspada dan sangat berhati-hati dalam merespons dinamika ini, “Realita yang kita hadapi sekarang tentang framing, sangat kontekstual dengan tema konferensi ini, yaitu Strategic Communications at the Heart of Trust, Humanity, and Digital Impact. Nyambung banget. Saat kita ingin meraih kepercayaan namun tidak paham cara menciptakan dampak secara digital, maka upaya tersebut sulit tercapai. Kita harus bisa mengantisipasi derasnya hoaks dan framing, dengan kesigapan, namun juga hati-hati.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Pembicara kunci Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya komunikasi kesehatan yang transparan dan mudah dipahami di tengah era misinformasi untuk membangun kepercayaan publik. Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa instan, masyarakat perlu merasa terhubung secara emosional. Karena itu, komunikasi harus disertai data yang akurat, lahir dari empati dan kisah nyata, bukan sekadar angka.

Berbicara mengenai humanity atau kemanusiaan, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan, RI yang turut hadir sebagai keynote speaker menyatakan pentingnya komunikasi kesehatan dalam membangun kepercayaan publik untuk hidup yang lebih baik, “Kepercayaan adalah aset yang paling berharga di dalam dunia kesehatan sekaligus yang paling rapuh. Untuk itu, pembenahan perlu dilakukan di semua sektor di bidang kesehatan. Kementerian Kesehatan terus memperkuat komunikasi publik yang transparan, mudah dipahami serta menyentuh hati masyarakat karena perubahan sistem pola hidup tidak bisa seperti membalik tangan, sebelum tersentuh hatinya. Karena itu, saya menyambut baik tema yang diselenggarakan IABC untuk mengangkat topik komunikasi di bidang kesehatan.”

Lanjutnya, komunikasi tidak hanya membutuhkan penyajian data yang akurat, namun dibutuhkan empati dan kisah nyata dari berbagai sumber lapisan masyarakat, terutama bagi yang sedang berjuang di pelosok terpencil Indonesia. Kemampuan mengubah statistik menjadi cerita dan empati, itulah hal yang paling esensial untuk diperankan sektor komunikasi publik, terutama komunikasi digital, “Saya menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya terhadap IABC yang telah membangun komunikasi kesehatan, yang tidak hanya akan terbatas di ruang ini, namun dapat menjangkau ruang publik yang lebih luas.” ujar Prof. dr. Dante.  

Sementara itu Bank Mandiri melihat penguatan inovasi digital sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas dan mendorong akselerasi ekonomi nasional. Dengan mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam pengembangan layanan, Bank Mandiri membangun ekosistem finansial yang lebih efisien, inklusif, dan adaptif terhadap dinamika ekonomi, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi rumah tangga, UMKM, dan sektor produktif yang menjadi pendorong pertumbuhan PDB.

Pemanfaatan teknologi untuk literasi, transparansi transaksi, dan mitigasi risiko juga mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global, sehingga inovasi digital dapat memberikan multiplier effect bagi keberlanjutan ekonomi jangka Panjang. “Membangun kepercayaan di era digital dimulai dengan menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari setiap inovasi. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ESG dalam praktik bisnis kami, Bank Mandiri terus berkembang dalam menciptakan dampak digital yang memberdayakan masyarakat, memperkuat komunitas, dan menjaga keberlanjutan masa depan bersama,” ujar Senior Vice President Environmental, Social & Governance Bank Mandiri, Monica Yoanita Octavia.

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Panelis Abdullah Fahmi, VP Corporate Communication & Social Responsibility Telkomsel Indonesia (tengah) memaparkan peran penting perusahaan melalui teknologi AI dan digitalisasi di setiap sektor di Indonesia, mulai dari pemerintahan, enterprise, hingga pendidikan.

Abdullah Fahmi, VP Corporate Communication & Social Responsibility, Telkomsel Indonesia, menekankan“Transformasi digital tidak cukup hanya dengan jaringan yang kuat. Kita memerlukan komunikasi yang bertanggung jawab untuk memastikan setiap langkah menuju keberlanjutan dimengerti, diterima, dan dijaga. Sebagai komunikator, kita membangun kepercayaan yang memungkinkan teknologi memberi dampak positif nyata bagi seluruh bangsa.”

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia menegaskan kembali tujuan utama komunikasi, to shine and shield. Artinya, mempromosikan kisah yang mencerminkan nilai-nilai perusahaan sekaligus menjaga reputasi Danone dengan optimal.

Sementara Danone Indonesia berhasil mendefiniskan ulang dampak komunikasi terhadap keberlanjutan bisnis, “Rahasia formula komunikasi yang berdampak adalah empati, baik saat melindungi maupun promosi. Di Danone Indonesia, kami berbicara dengan bahasa audiens yang kami tuju, memastikan pemahaman yang membentuk persepsi publik yang positif, dan pada akhirnya, komunikasi yang memperkuat keberlanjutan bisnis,” ujar Arif Mujahidin, Corporate Communication, Danone Indonesia.

Dalam menggawangi tren komunikasi untuk tahun 2026, Elvera menutup IABC Indonesia Conference dan Awards dengan membagikan pesan kunci bagi profesional komunikasi di tanah air, “Ketika survei dunia menunjukkan publik mulai meragukan apa yang mereka lihat dan dengar, tugas komunikator adalah memulihkan kepercayaan dengan transparansi, integritas, dan keberanian mengakui keterbatasan. Humanity adalah kompasnya. AI mungkin mempercepat dunia, tetapi hanya humanityyang dapat menstabilkannya. Ke depan, komunikator Indonesia perlu berdiri di garis depan yang menghubungkan data dengan empati, teknologi dengan etika, dan inovasi dengan tanggung jawab sosial. Komunikasi yang berakar pada kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital adalah fondasi kepemimpinan yang diharapkan mampu menginspirasi tindakan.”

Dengan semakin kompleksnya tantangan digital, IABC Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadi rumah bagi para komunikator yang ingin memimpin dengan etika, empati, dan dampak nyata bagi masyarakat.

IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI
Foto 8: Keynote speakers bersama Boards of Directors IABC Indonesia. Dari kiri ke kanan: Elvera N. Makki, President IABC Indonesia, Founder & CEO VMCS Communications & Social Impact, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, Prof. Stella Christie Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Shanti Ruwyastuti, Board Member IABC Indonesia, dan Dwi Fatan Lilyana, Direktur SDM dan Umum PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) juga sebagai Advisor IABC Indonesia.

IABC merupakan asosiasi yang menjadi salah satu barometer untuk tren komunikasi dunia, berkantor pusat di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, dan menaungi lebih dari 100 chapters di 80 negara, termasuk di Indonesia. Keanggotaan IABC Indonesia beroperasi di bawah payung Perkumpulan Komunikasi Internasional Indonesia yang aktif sejak 2019. Dengan lebih dari 1000 anggota komunitas Indonesia, berbagai program yang dilaksanakan memberikan wawasan, pengetahuan, dan akses jejaring profesional, serta program mentorship, pemberian penghargaan, dan sertifikasi profesi di bidang komunikasi berskala internasional. Untuk bergabung dengan komunitas ini, dapat mengunjungi www.iabcindonesia.com dan jejaring profesional di Linkedin, serta Instagram @iabcindonesia.

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi:
Malvin Adrianus
Email: malvin.adrianus@iabcindonesia.com dan info@iabcindonesia.com
No WA: 0851-5633-7189

Implementation of Seminar/Mandatory Lecture and Workshop by IABC Indonesia at Mulawarman University and Visit to Nusantara

October 23, 2024

IABC Indonesia successfully held a seminar, public lecture, and workshop at Mulawarman University, Samarinda, East Kalimantan, from September 9 to 11, 2024. The event, themed “New Nusantara, Advanced Indonesia” aimed to support the development of communication and technology in Indonesia’s education sector, particularly in the current digital era. This event also included the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) covering the Tri Dharma of Higher Education, and Implementing Agreement (IA), and a Cooperation Agreement between Mulawarman University, IABC Indonesia, VMCS Advisory, and NoLimit Indonesia, strengthening collaboration in the fields of education and research.

The keynote speaker for the seminar/public lecture was Prof. Ir. Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc., Ph.D., Deputy for Green and Digital Transformation of the Nusantara Capital Authority, who presented the latest developments in the construction of Nusantara, Indonesia’s new capital city. In his presentation, Prof. Ali explained how Nusantara is being designed as a futuristic city focusing on sustainability, smart technology, and environmental harmony.

Foto Bersama Peserta Seminar Kuliah Umum

The event continued with presentations by Elvera N. Makki, MBA, ABC, SCMP, Chair of IABC Indonesia/PERKOMII and CEO of VMCS Advisory, Dr. Aqsath R. Naradhipa, CEO of NoLimit Indonesia, and Dr. Catur Suratnoaji, M.Si., Dean of the Faculty of Social and Political Sciences at UPN East Java. The presentations highlighted the importance of building campus branding and reputation in the digital era and how Big Data and Artificial Intelligence (AI) can be utilized within universities. The speakers emphasized that universities must effectively leverage digital technology to build strong reputations and branding , reach wider audiences, and enhance the quality of academic research.

Foto Pemaparan Materi oleh VMCS Advisory

The event continued with a workshop divided into three sessions. In the first session, VMCS Advisory delivered a presentation on “ Building University Branding and Reputation in the Digital Era” which discussed strategies for strengthening a university’s image through digital platforms. The second session, led by NoLimit Indonesia, covered the topic “The Use of Big Data and AI in Research and Academic Journals,” highlighting the importance of data utilization to support academic analysis and development. The final session was presented by UPN Veteran East Java, focusing on “Implementing Big Data and AI in Higher Education,” providing insights on how universities can adopt advanced technology to improve operational efficiency and educational quality.

Foto Bersama Peserta Tur IKN

After the series of events concluded, on Thursday, September 12, 2024, IABC Indonesia, along with teams from VMCS Advisory and NoLimit Indonesia, as well as representatives from Mulawarman University, were given the special opportunity to visit Nusantara after obtaining permission from the Nusantara Capital Authority. The journey from Samarinda to Nusantara took approximately 3 hours. During the tour in Nusantara, the group was guided by Ms. Syavika Putri Zayyana, Junior Policy Analyst at the Directorate of Investment and Business Facilitation, and Mr. Igor Immanuel, Senior Financial Analyst at the Directorate of Funding, using an electric bus, in line with Nusantara’s commitment to renewable energy usage. The participants witnessed firsthand how the Smart Forest City concept, based on sustainability, is being implemented in the new capital, with eco-friendly transportation systems and the integration of advanced technology in all aspects of urban planning.

Signing of IABC Indonesia’s Note of Understanding with LSP PRI for International Standard Public Relations Professional Certification

August 28, 2024

As a first step in realizing the IABC – LSP PRI Cooperation Agreement, we are pleased to report that the Indonesian PR Professional Certification Institute (LSP PRI), a pioneer and the first LSP in the field of Public Relations, has successfully developed a new PR Professional Certification Scheme. With its extensive experience in certification, quality assurance systems, scheme development, and stakeholder communication, LSP PRI is well-equipped to meet the evolving needs of the current world of work.

MoU IABC Indonesia LSPPRI
Photo with Muslim Basya as Chair of the Indonesian PR Professional Certification Institute and Elvera Makki as President of IABC Indonesia - Founder CEO of VMCS Advisory Indonesia.

The National Professional Certification Agency (BNSP) verification team has meticulously verified and validated the certification scheme. It has undergone a Full BNSP Assessment and BNSP Witness and received BNSP approval through the Decree of the Chairman of the National Professional Certification Agency Number Kep—2258/BNSP/X/2023 concerning Changes to the Scope of LSP PRI. This rigorous process ensures the high quality and reliability of the certification scheme.

MoU IABC Indonesia LSPPRI

Five of the 17 certification schemes are digital PR certification schemes developed based on the latest developments in digital PR work. As a result of implementing certification on behalf of BNSP, SKKNI always guides the development of the Certification Scheme. However, LSP RI has been given the authority to develop a Certification Scheme, including developing Competency Test Materials. Because SKKNI can only occasionally cover all the latest job needs and updating the Certification Scheme takes time, LSP PRI always updates Competency Test Materials every year to adapt to job needs and changes or developments in the fast-paced world of Public Relations. Of the 17 certification schemes, five are digital PR certification schemes developed based on the latest developments in digital PR work. As a result of implementing certification on behalf of BNSP, SKKNI always guides the development of the Certification Scheme. However, LSP RI has been given the authority to develop a Certification Scheme, including developing Competency Test Materials. Because SKKNI can only occasionally cover all the latest job needs and updating the Certification Scheme takes time, LSP PRI always updates Competency Test Materials every year to adapt to job needs and changes or developments in the fast-paced world of Public Relations.

IABC Webinar Sustainability ESG Series: Examining the Development of Sustainability Commitments in Indonesia for the Net Zero Emission (NZE) Target

August 10, 2024

IABC Webinar Sustainability ESG Series:

Examining the Development of Sustainability Commitments in Indonesia for the Net Zero Emission (NZE) Target

Jakarta, July 16 2024 – The commitment to sustainability of Net Zero Emission (NZE), which first appeared at the Conference of the Parties (COP 21) in 2015, spawned the Paris Agreement which was agreed upon by 197 countries, including Indonesia, to maintain an increase in global average temperature to 2 C compared to pre-industrial period and as much as possible keep the temperature increase from exceeding 1.5 C. In preventing extreme climate change, the world NZE agreement is to achieve the NZE target by 2050, while Indonesia has a target to achieve NZE by 2060.

International Association of Business Communicators (IABC) – Indonesia Chapter, as part of the IABC based in Chicago, Illinois, United States, also pays special attention to the development of sustainability efforts in the country, including in the Environment, Social and Governance pillars ( ESG), especially how to communicate, public relations, and public affairs can play an active role in voicing sustainability actions.

Elvera N. Makki, MBA, ABC, SCMP, Presiden International Association of Business Communicators (IABC) – Indonesia Chapter, stated, “IABC Indonesia is concerned with sustainability, including ESG in Indonesia, because of its enormous impact on human life now and in the future. The role of communication is very important to voice sustainability actions and increase public awareness, as well as corporations across sectors to jointly play an active role in achieving the Net Zero Emission target in Indonesia by 2060. “For this reason, we are holding this forum as a regular discussion with sustainability leaders and professionals, so that as communication practitioners, we understand and can help disseminate important information related to this crucial topic.”

IABC (International Association of Business Communicators) – Indonesia Chapter held a webinar “IABC Power Brain Communication Webinar 2024: Sustainability and ESG Series” with the theme “Net Zero Emission’s Targets and Updates”, presenting leading sources from various industrial sectors, namely Warsono, Executive Vice President Electricity System Planning, PT PLN (Persero), Nurdiana Darus, Head of Sustainability Corporate Affairs, PT Unilever Indonesia, Tbk. and Febron Siregar, Sales Director Indonesia, Wärtsilä Energy.
Webinar ini juga dimoderatori oleh
Elvera N. Makki, Communications Social Impact Advisor VMCS Public Relations, and also President of IABC Indonesia.In discussions held online, Warsono, Executive Vice President Electricity System Planning,, PT PLN (Persero), explained the energy transition strategy from the electricity sector that is sustainable and just, “Each country has a different strategy in the energy transition, depending on the conditions of each country. In Indonesia, we have four technology pillars to accelerate the development of renewable energy with a gradual reduction in coal use scenario.”

The first pillar is related to the target of increasing renewable energy capacity by 75% and gas-based energy by 25% by 2040. PLN is also working on a super grid, as the second pillar, where the transmission network is used as a enabler which addresses the mismatch between new and renewable energy potential and demand centers. The third pillar focuses on the massive use of solar and wind power penetration in the electricity system through flexible and flexible generation smart grid. Lastly, the pillars green emerging technology, which maximizes storage usage, CCS/CCUS, Co-firing Hydroge, Ammonia, and new energy such as nuclear.

Nurdiana Darus, Head of Sustainability Corporate Affairs, PT Unilever Indonesia stated, “Unilever is committed to achieving targets Net Zero Emission in 2039, with real and measurable action in 9 (nine) areas along the company’s business chain in stages up to 2030, including those related to suppliers, raw materials, packaging design and storage, to logistics.”

Nurdiana also explained in detail the sustainability targets in each scope 1, 2, and 3, which focus on reducing emissions and decarbonization, “Unilever’s ambition towards Net Zero Emission included in Climate Transtition Action Plan (CTAP). In the period between 2025-2023, we have reduced 89.45% of carbon emissions during operationalization, installation of solar panels in several factories in August 2023 with a capacity of 2.5MWp, with a reduction in CO2 emissions of up to 1,500 tonnes per year, equivalent to planting 20,000 trees. “This installation is the largest in the Jababeka area.”

Febron Siregar, Sales Director Wärtsilä Energy said, “Wärtsilä has a decarbonization target in 2030. In line with the increasing amount of renewable energy, flexible balancing solutions are needed to ensure the stability and reliability of this renewable energy, whose capacity is expected to increase 8x by 2050.”He added, “To achieve Net Zero Emission by 2050, renewable energy must provide 89% of the world’s electricity supply. Choosing flexible and appropriate technologies for power systems is essential to maintaining a stable and reliable electricity supply. Wärtsilä recently launched the world’s first large-scale hydrogen power plant, addressing the need for decabornization in the energy sector.”

The three speakers agreed that to achieve the Net Zero Emission target, cooperation, collaboration and harmony across sectors and across stakeholders are needed, “Communication plays a key role so that sustainability goals can be achieved according to the planned time, so that IABC Indonesia also supports it through discussions and dialogue. “held regularly in our forums,” concluded Elvera Makki.

IABC Webinar Sustainability & ESG Series

For further information, please contact: Email: info@iabcindonesia.comWebsite: iabcindonesia.com Facebook, Instagram, Twitter, Linkedin: @iabcindonesia

IABC Leaders Discussion with Top PR Leaders and Practitioners

April 13, 2024

IABC Indonesia mengadakan diskusi terbatas yang mengangkat tema “Optimizing Communications and Public Relations for the Advancement of Business Growth in Indonesia” yang dihadiri oleh para pemimpin dan praktisi senior dari berbagai bidang di Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan pada Rabu, 3 April 2024, di VVIP Senayan Avenue, Jakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan iftar bersama.

IABC Leaders Discussion

In this discussion, participants included IABC (International Association of Business Communicators) Board members and Distinguished Advisor representatives, as well as PR practitioners and business communicators. Also present were prominent figures such as Angkie Yudistia, Special Staff to the President; Maria Wongsonagoro, Senior PR Consultant; Muslim Basya, from the Executive Board of LSPPRI (Indonesian PR Professional Certification Institute); Tuhu Nugraha, Digital and Technology Consultant; Diyas Herrianti, Director of the Government of Western Australia; Rembianov, from Communication FIF Group; and Shanty Ruwiyastuti, Head of Media Academy. From academia, Moch. N. Kurniawan from Swiss German University and Elke Alexandrina from LSPR were also present, as well as many others.

IABC Leaders Discussion

The discussion covered a range of relevant topics, including the importance of understanding sustainability, the role of technology and artificial intelligence (AI) in the evolving world of PR, the need for future-relevant PR talent, the role of political communication in strategic communication, as well as a discussion on research and data to enhance credibility.

This event is an important platform for leaders and practitioners in the field of communication and PR to share knowledge, ideas, and experiences in an effort to increase business growth in Indonesia.